Jumat, 13 Agustus 2010

HAKEKAT NUR MUHAMAD

oleh : muhammad nizar

Kajian islam kita selanjutnya tentang Nur Muhammad. Telah kita mafhum bersama salah satu kajian islam yang sering menjadi kontroversi di kalangan ulama adalah tentang Hakekat Nur Muhammad. Sebab,Hakekat Nur Muhammad merupakan kajian tasawuf yang ketika kita buka alquran tak secara jelas menyebutkan tentang adanya. Pembahasan tentang Nur Muhammad ada, ketika para ulama menafsirkan ayat dalam alquran,sedangkan nur muhammad sendiri tidak termatub dalam alquran.
Sedangkan dalam hadist ada beberapa yang membahas tentang Nur Muhammad.
Paham Nur Muhammad.
Beberapa kalangan dalam ummat Islam mempersoalkan konsep Nur Muhammad (Cahaya Muhammad atau Ruh Muhammad) sebagai suatu konsep yang tidak memiliki dasar dalam ‘aqidah Islam. Padahal, konsep Nur Muhammad adalah suatu konsep ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang diterima dan diakui oleh ijma’ (konsensus) ulama ilmu kalam dan ulama’ tasawwuf (awliya’ Allah) dalam kurun waktu yang panjang, sebagai suatu konsep yang memiliki sumber dalilnya dari Quran dan Hadits Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Konsep ‘aqidah Nur Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam menyatakan antara lain bahwa cahaya atau ruh dari Nabi Besar Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah makhluq pertama yang diciptakan sang Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang kemudian darinya, Ia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluq-makhluq lainnya. Pada artikel ini, insha Allah akan dijelaskan, dalil-dalil qath’i (bukti yang pasti) berupa ayat-ayat Al Quran yang menyebutkan atribut Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam sebagai Nur (cahaya) yang dikaruniakan Allah Ta’ala bagi segenap alam semesta. Akan kita dapati pula, penjelasan dari berbagai ulama ahli tafsir (mufassir) akan makna ayat-ayat tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sendirilah yang menyebut Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam sebagai Nuur (cahaya), atau sebagai “Siraajan Muniiran” (makna literal: Lampu yang Bercahaya).
Hal ini dapat kita perhatikan dari ayat-ayat berikut:
1. dalam QS. Al-Maidah 5:15
قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ
“…Qad jaa-akum min-Allahi nuurun wa kitaabun mubiin”
“…Sungguh telah datang padamu dari Allah, nuur (cahaya) dan kitab yang jelas dan menjelaskan”
2. dalam QS.An-Nur 24:35
مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ
“…Matsalu nuurihi kamisykaatin fiihaa mishbaah, al-mishbaahu fii zujaajah; az-zujaajatu kaannahaa kaukabun durriyyun yuuqadu min syajaratin mubaarakatin zaituunatin laa syarqiyyatin wa laa gharbiyyatin yakaadu zaituhaa yudhii-u wa lau tamsashu naarun; nuurun ‘alaa nuurin…”
“…Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti suatu misykat (bundel) di mana di dalamnya ada suatu lampu, lampu itu ada dalam gelas, dan gelas itu seperti bintang yang berkelip, dinyalakan dari pohon yang terberkati, suatu zaitun yang tak terdapat di timur maupun di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir sudah bercahaya sekalipun api belum menyentuhnya; cahaya di atas cahaya…”
3. dalam QS. Al-Ahzab 33: 45-46
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً
وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً
“Yaa Ayyuhan Nabiyyu inna arsalnaaka Syahiidan wa Mubassyiran wa Nadziiran. Wa Daa-’iyan ila-Allahi bi-idznihii wa Sirajan Muniiran“
“Wahai Nabi sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai seorang Saksi, Seorang Pembawa kabar gembira, dan seorang Pemberi Peringatan, dan sebagai Seorang Penyeru (Da’i) kepada Allah dengan izin-Nya, dan
sebagai suatu Lampu yang menebarkan Cahaya“.
TAFSIR DAN INTERPRETASI AYAT
I. Mengenai ayat pertama (5:15)
- Qadi ‘Iyad berkata, “Beliau (Nabi) dinamai cahaya (Nuurun) karena kejelasan perkaranya dan karena fakta bahwa Nubuwwahnya (Kenabiannya) telah dijadikan amat jelas, dan juga karena menerangi cahaya orang-orang mukmin dan ‘arif billah dengan apa yang beliau bawa.”
- Suyuti dalam Tafsir al-Jalalayn, Fayruzzabadi dalam Tafsir Ibn ‘Abbas berjudul Tanwir al-Miqbas (hlm. 72), Shaykh al-Islam, Imam Fakhr al-Din ar-Razi, Mujaddid abad keenam, dalam Tafsir al-Kabir-nya (11:189), Qadi Baydawi dalam Tafsirnya yang berjudul Anwar al-Tanzil, al-Baghawi dalam Tafsir-nya berjudul Ma’aalim
al-Tanzil (2:23), Imam al-Shirbini dalam Tafsirnya berjudul al-Siraj al-Munir (hlm. 360), pengarang Tafsir Abi Sa’ud (4:36), dan Thana’ullah Pani Patti dalam Tafsir al-Mazhari-nya (3:67) berkata: “Apa yang dimaksudkan sebagai suatu Cahaya (Nuurun) adalah: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam.”
- Ibn Jarir al-Tabari dalam Tafsir Jami’ al-Bayan-nya (6:92) berkata: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah: Ia maksudkan dengan Cahaya adalah: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam, dengan mana Allah telah menerangi kebenaran, membawa Islam maju dan memunahkan kesyirikan. Karena itu beliau (Nabi) adalah suatu cahaya (nuurun) bagi mereka yang telah tercerahkan oleh beliau dan oleh penjelasannya akan kebenaran.”
- al-Khazin dalam Tafsir-nya (2:28) mengatakan serupa: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah bermakna: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam. Allah menyebut beliau cahaya tidak dengan alasan apa pun melainkan karena seseorang terbimbing olehnya (Muhammad SallAllahu ‘alayhi wasallam) dengan cara yang sama seperti seseorang terbimbing oleh cahaya dalam kegelapan.”
- Sayyid Mahmud al-Alusi dalam tafsirnya berjudul Tafsir Ruhul Ma’ani (6:97) secara serupa berkata: “Telah datang padamu suatu cahaya (Nuurun) dari Allah: adalah, suatu cahaya yang amat terang yaitu cahaya dari cahaya-cahaya dan yang terpilih dari semua Nabi, sallalLahu ‘alayhi wasallam.”
- Isma’il al-Haqqi dalam komentarnya atas Alusi berjudul Tafsir Ruh al-Bayan (2:370) secara serupa juga berkata: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah dan suatu Kitab yang menjelaskan segala
sesuatu: dikatakan bahwa makna yang awal (yaitu NUUR) adalah Rasulullah, sallalLahu ‘alayhi wasallam, dan yang berikutnya (Kitabun Mubin, penerj) adalah Quran….
Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam disebut Cahaya (Nuurun) karena yang pertama yang dibawa keluar dari kegelapan kelalaian dengan cahaya dari kekuatan-Nya, adalah cahaya (Nuur) Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam, sebagaimana beliau (Nabi Sall-Allahu ‘alayhi wasallam) pernah bersabda: ‘Hal pertama yang Allah ciptakan adalah cahayaku.”
Riwayaat ini berkenaan dengan pertanyaan Jabir ibn ‘Abd Allah yang bertanya tentang apa yang diciptakan Allah pertama kali sebelum segala sesuatu lainnya.
Riwayat ini diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq (wafat 211H) dalam Musannaf-nya, menurut Imam Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyya (1:55) dan Zarqani dalam Syarah
al-Mawahib (1:56 dari edisi Matba’a al-’amira di Kairo). Tidak ada keraguan akan Abd Razzaq sebagai rawi (periwayat Hadits). Bukhari mengambil 120 riwayat darinya, Muslim 400. Riwayat ini dinyatakan pula sahih oleh Abd al-Haqq ad-Dihlawi (wafat 1052), ahli hadits India, juga disebut oleh ‘Abd al-Hayy al-Lucknawi (wafat 1304 H) ahli hadits kontemporer India. Demikian pula oleh Al-Alusi dan Bayhaqi dengan matan [redaksi susunan kata hadits, penerj.] yang berbeda, dan juga oleh beberapa ulama lain.
Sebagai suatu catatan khusus adalah suatu fakta bahwa kaum Mu’tazili [kaum yang terlalu mengandalkan ra'yu atau logika akal, penerj.] berkeras bahwa Cahaya dalam ayat 5:15 merefer hanya pada Quran dan tidak pada Nabi. Alusi berkata dalam kelanjutan kutipan di atas: “Abu ‘Ali al-Jubba’i berkata bahwa cahaya/nuurun berkaitan dengan Quran karena Quran membuka dan memberikan jalan petunjuk dan keyakinan. al-Zamakhshari (dalam al-Kasysyaf 1:601) juga puas dengan penjelasan ini.” Penjelasan yang lebih dalam akan dua pendapat ini dijelaskan oleh Shah ‘Abd al-’Aziz al-Multani dalam al-Nabras (hlm. 28-29): “al-Kasysyaf memproklamasikan dirinya sebagai Bapak Mu’tazilaa… Abu ‘Ali al-Jubba’i adalah seperti Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab-nya kaum Mu’tazila Basra.” Kesamaan antara pendapat Mu’tazila dengan Wahhabi dan “Salafi” modern ditekankan oleh Imam Kawtsari di banyak tempat di kitab Maqalat-nya, di mana beliau menunjukkan bahwa seperti halnya Mu’tazilah, penolakan kaum Wahhabi (dan juga Salafi modern, penerj.) atas karakteristik awliya’ adalah kamuflase atas penolakan (karakteristik) yang sama dari diri para Nabi.
Ada suatu penjelasan yg patut dicatat di antara Ahlus Sunnah yang mendeskripsikan makna Nabi baik kepada Cahaya (Nuurun) maupun Kitab, al-Sayyid al-Alusi berkata dalam Ruh al-Ma’aani (6:97): “Saya tidak menganggapnya dibuat-buat bahwa yang dimaksud baik dengan Cahaya (Nuurun) maupun Kitabun Mubin adalah sang Nabi, konjungsi dengan cara yang sama seperti yang dikatakan al-Jubba’i (bahwa baik Cahaya maupun Kitab adalah Quran). Tidak ada keraguan bahwa dapat dikatakan semua merefer ke Nabi. Mungkin Anda akan ragu utk menerima ini dari sudut pandang ‘ibara (ekspresi); tapi cobalah dari sudut pandang ‘isyarah.”
- Al-Qari berkata dalam Syarah al-Shifa’ (1:505, Mecca ed), bahwa “Telah pula dikatakan bahwa baik Cahaya maupun Kitab merefer pada Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, karena beliau adalah suatu cahaya yang cemerlang dan sumber dari segala cahaya, beliau adalah pula suatu kitab/buku
yang mengumpulkan dan memperjelas segala rahasia.” Ia juga berkata (1:114, Madina ed.): “Dan keberatan apa untuk mempredikatkan kedua kata benda itu pada Nabi, karena beliau secara hakikat adalah Cahaya yang Terang karena kesempurnaan penampilannya (tajallinya) di antara semua cahaya, dan beliau adalah suatu Kitab Nyata karena beliau mengumpulkan keseluruhan rahasia dan membuat jelas seluruh hukum, situasi, dan alternatif.”
II. Mengenai ayat kedua (QS. 24:35)
- Imam Suyuti berkata dalam al-Riyad al-Aniqa: Ibn Jubayr dan Ka’b al-Akhbar berkata: “Apa yang dimaksud dengan cahaya (nuurun) kedua (dalam ayat tersebut, penerj.) adalah Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam karena beliau adalah Rasul dan Penjelas dan Penyampai dari Allah apa-apa yang memberi pencerahan dan kejelasan.” Ka’b melanjutkan: “Makna dari ‘Minyaknya hampir-hampir bercahaya’ adalah karena kenabian Nabi akan dapat diketahui orang sekalipun beliau tidak mengatakan bahwa beliau adalah seorang Nabi, sebagaimana minyak itu juga akan mengeluarkan cahaya
tanpa tersentuh api.”
- Ibn Kathir mengomentari ayat ini dalam Tafsir-nya dengan mengutip suatu laporan via Ibn ‘Atiyya dimana Ka’b al-Ahbar menjelaskan firman-firman Allah: “…yakadu zaytuha yudhi-u wa law lam tamsashu nar…”, sebagai bermakna: “Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam sudah hampir jelas sebagai seorang Nabi bagi orang-orang, sekalipun beliau tidak mengumumkannya.”
- Qadi ‘Iyad berkata dalam al-Syifa’ (edisi English p. 135): Niftawayh berkata berkaitan dengan kata-kata Allah: “…minyaknya hampir-hampir bercahaya sekalipun api tidak menyentuhnya…” (24:35): “Ini adalah perumpamaan yang Allah berikan berkaitan dengan Nabi-Nya. Ia berkata bahwa makna ayat ini adalah bahwa wajah ini (wajah Rasulullah SAW, pen.) telah hampir menunjukkan kenabiannya bahkan sebelum beliau menerima wahyu Quran, sebagaimana Ibn Rawaha berkata:
Bahkan jika seandainya tidak ada tanda-tanda nyata di antara kami,
wajahnya telah bercerita padamu akan berita-berita.”
- Di antara mereka yang berkata bahwa makna “matsalu nuurihi” — perumpamaan Cahaya-Nya — adalah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah: Ibn Jarir at-Tabari dalam Tafsir-nya (18:95), Qadi ‘Iyad dalam al-Syifa’, al-Baghawi dalam Ma’alim al-Tanzil (5:63) dalam catatan al-Khazin, dari Sa’id ibn Hubayr dan
ad-Dahhak, al-Khazin dalam Tafsir-nya (5:63), Suyuti dalam ad-Durr al-Mantsur (5:49), Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (3:171), al-Khafaji dalam Nasim ar-Riyad
(1:110, 2:449).
- al-Nisaburi dalam Ghara’ib al-Quran (18:93) berkata: “Nabi adalah suatu cahaya (Nuurun) dan suatu lampu yang memancarkan cahaya.”
- al-Qari dalam Syarah al-Shifa’ berkata: “Makna yang paling jelas adalah untuk mengatakan bahwa yang dimaksud dengan cahaya (Nuur) adalah Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.”
III. Mengenai ayat ketiga (QS. 33: 45-46)
- Qadi al-Baydawi berkata dalam Tafsir-nya: “Itu adalah matahari berdasarkan firman-Nya: “Telah Kami jadikan matahari sebagai suatu lampu”; atau, itu mungkin berarti suatu lampu”.
- Ibn Kathir menyatakan dalam Tafsirnya: “Firman-Nya: ‘…dan suatu lampu yang bersinar’, adalah: statusmu (Wahai Nabi, penj) nampak dalam kebenaran yang telah kau bawa sebagaimana matahari nampak saat terbitnya dan bercahaya, yang tak bisa disangkal siapa pun kecuali yang keras-kepala.”
- Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradat (1:147) berkata: “kata itu (lampu) digunakan untuk segala sesuatu yang mencahayai.”
- al-Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (3:171) berkata: “Beliau dinamai Lampu karena dari satu lampu muncul
banyak lampu, dan cahayanya tidak berkurang.”
- `Abd Allah ibn Rawaha al-Ansari cucu dari penyair Imru’ al-Qays berkata tentang Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam:
law lam takun fihi ayatun mubina
lakana manzaruhu yunabbi’uka bi al-khabari
“Bahkan seandainya, tidak ada ayat (tanda) berkenaan dengan ia (SAW), yang nyata dan jelas
sungguh memandangnya saja sudah bercerita padamu akan khabar/berita”
Ibn Hajar meriwayatkannya dalam al-Isaba (2:299) dan berkata: “Ini adalah syair terindah dengan mana Nabi pernah dipuji.” Ibn Sayyid al-Nas berkata tentang Ibn Rawaha ini dalam Minah al-Madh (hlm.. 166):
“Ia terbunuh sebagai syahid di perang Mu’ta pada 8 JumadilAwwal sebelum Fathu Makkah (Penaklukan Makkah). Di hari itu ia adalah salah satu dari komandan. Ia adalah salah seorang dari penyair yang berbuat
kebaikan dan biasa menangkis segala bahaya yang menyerang Rasulullah. Adalah berkenaan dengan dia dan dua temannya Hassan (ibn Tsabit) dan Ka’b (ibn Zuhayr) yang disinggung dalam ayat “Kecuali mereka yang
beriman dan berbuat kebajikan dan bedzikir pada Allah sebanyak-banyaknya.” (As-Syu’ara 26:227).”
- Dan sebagai atribut dari Allah adalah Dzu al-Nur
yang berarti Sang Pencipta cahaya, dan Penerang langit dan bumi dengan cahaya-cahaya-Nya, juga sebagai Penerang qalbu orang2 mukmin dengan petunjuk/hidayah. Imam Nawawi berkata Syarah Sahih Muslim, dalam komentarnya atas doa Nabi yang dimulai dengan: “Ya Allah, Engkaulah Cahaya Langit dan bumi dan milik-Mu lah segala puji…” (Kitab Salat al-Musafirin #199):
“Para ulama berkata bahwa makna “Engkau adalah cahaya langit dan bumi” adalah: Engkaulah Dzat Yang menyinari mereka (langit dan bumi) dan Pencipta cahaya mereka. Abu ‘Ubayda berkata: “Maknanya adalah bahwa dengan cahaya-Mu penduduk langit dan bumi memperoleh hidayah.”
al-Khattabi berkata dalam komentarnya atas nama Allah an-Nur: “Itu berarti Ia yang dengan cahaya-Nya yang buta dapat melihat, dan yang tersesat dapat terbimbing, di mana Allah adalah cahaya langit dan bumi, dan adalah mungkin bahwa makna al-Nur adalah: Dzu al-Nur, dan adalah tidak benar bahwa al-Nur adalah atribut dari Zat Allah, karena itu hanyalah atribut dari aksi (sifatu fi’li), yaitu: Ia adalah Pencipta dari cahaya.” Yang lain berkata: “Makna cahaya langit dan bumi adalah: Sang Pengatur matahari dan bulan dan bintang-bintang mereka (langit dan bumi).””
artinya: “Dan kami jadikan malam sebagai pakaian, dan kami jadikan siang untuk mencari kehidupan” (Surat an-Naba’ ayat 10-11). Dapat difahami dari ayat-ayat ini bahwa Allah SWT menghendaki hamba-hamba-Nya untuk “berkepribadian ganda” (dalam arti yang positif), yaitu menjadi mujahid yang tangguh di jalan Allah SWT pada siang hari dan menjadi sufi yang senantiasa mengingat Allah SWT pada malam hari. Pada siang hari, ketika terang-benderang di sekeliling, ketika semua benda dan permasalahan yang terkait dengannya cukup jelas dan kasat mata, seorang Muslim sejati dituntut untuk senantiasa bekerja keras mencari nafkah kehidupan bagi dirinya dan keluarganya, berjuang dan memperjuangkan tegaknya kalimat Allah SWT yang mengandung kebenaran hakiki, serta senantiasa bergerak dalam koridor syari’at yang telah ditetapkanNya. Ketika malam tiba, gelap-gulita di sekeliling alam semesta, maka seorang Muslim akan berhenti dari kegiatan-kegiatan kesehariannya, beristirahat dalam tidurnya, tapi juga terbangun kembali untuk mengingat kebesaran Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu untuknya. Dalam kegelapan malam itulah, ketika seorang hamba mencari dan mengenali hakikat Allah SWT dalam perenungannya, diperlukan cahaya untuk menjadi penerang baginya. Kegelapan malam bisa membuat seseorang tersesat dalam kehidupannya, di situlah diperlukan cahaya yang menunjukinya jalan yang lurus. Ilmu-ilmu tasawuf, di antaranya kajian tentang Nur Muhammad yang diperbincangkan dalam diskusi ini, dapat di-reposisi-kan untuk mengisi malam-malam gelap-gulita para mujahid ketika mereka berada dalam kesendirian mereka, mengisi relung-relung paling dalam dari perenungan mereka tentang kebesaran Allah SWT. Kajian Nur Muhammad dapat menjadi salah satu cahaya dalam kegelapan malam para mujahid, dan saya kira inilah reposisi yang tepat untuk kajian tersebut.

Nur Muhammad: Hakikat Tauhid ataukah Kesesatan?

Salah satu paham yg banyak menyebar di kalangan ummat Islam khususnya di Indonesia adalah paham tentang "Nur Muhammad". Paham ini berasal dari pemikiran sejumlah penganut sufi. Berikut ini sebagian perkataan kaum sufi tentang nur atau hakikat Muhammad:

(1) “Allah adalah Dzat alam yang ada (Dzatul maujudat), maka Allah menjadikan Nur Muhammad sebagai mahluk pertama.
Lalu dari dia (dari nur Muhammad), muncul makhluk semuanya, dan dialah (Rasulullah) yang mutajalli di atas ‘arsy dengan
kata lain- Nabi Muhammad itu Tuhan yang dikecilkan (dalam bentuk kecil) dan kepada dialah, kejadian segala
makhluk bertumpu kepadanya”. Inilah pendapat Ibnu Arabi dengan paham Wihdatul Wujudnya. (Lihat: Kitab At Ta’liqat ‘ala
Fushush Al Hikam li Abi al ‘Alaai ‘Afifi (2/320-321))

(2) “Nur Muhammmad adalah awal yang ada dan dialah semulia-mulia makhluk, dan karena dialah Allah menciptakan alam
seluruhnya (tanpa dijelaskan alam dibuat dari nurnya ataukah bukan”). (Lihat. At Ta’rifat hal. 90)

(3) “Akal yang pertama (akal kreator) dinasabkan kepada Muhammad. Karenanya Allah menciptakan Jibril di waktu
terdahulu. Maka Muhammad adalah bapak bagi Jibril dan merupakan asal dari seluruh alam semesta ini”. (Lihat Al Insan
Al Kamil hal.4)

Jika kita meneliti tentang faham Nur Muhammad ini maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa : Pemahaman ini diadopsi dari pemahaman filsafat Yunani (Platonisme) yaitu bahwa awal penciptaan itu adalah haba’ /debu (atom) dan yang pertama-tama wujud adalah akal kreator atau akal fa’al. Dan dari akal kreator ini tumbuh alam atas, langit-langit, kemudian alam bawah dan seterusnya.(Lihat Al Fikr Ash Shufi hal 116-117)

Sejumlah ayat Al Quran dan Hadist digunakan para penganut paham Nur Muhammad untuk mendukung keyakinan mereka tsb. Di posting2 selanjutnya saya akan menanggapi ayat2 dan hadist2 tsb satu demi satu utk menunjukkan apakah penafsiran yg digunakan para penganut paham nur Muhammad sudah tepat:

(1) QS. Al-Maidah Ayat 15

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.

Tanggapan Saya:

Memang benar sejumlah penafsir Al Quran menafsirkan kata "nur" atau "cahaya" dalam ayat di atas sebagai Muhammad, tapi dasar penafsiran itu adalah karena Muhammad membawa firman Allah yg memberi petunjuk kepada manusia sama seperti cahaya menerangi kegelapan.

Ayat Al Maidah 15 harus dibaca tuntas dgn ayat berikutnya (Al Amidah 16)

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

" ... Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yg terang benderang ...". Dalam ayat ini jelas yg dimaksud "gelap gulita" adalah "kesesatan" dan "cahaya yg terang benderang" adalah "keimanan".

(2) QS An-Nur : 35


“…Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti suatu misykat (bundel) di mana di dalamnya ada suatu lampu, lampu itu ada dalam gelas, dan gelas itu seperti bintang yang berkelip, dinyalakan dari pohon yang terberkati, suatu zaitun yang tak terdapat di timur maupun di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir sudah bercahaya sekalipun api belum menyentuhnya; cahaya di atas cahaya…”

Tentang makna "cahaya" dlm ayat di atas Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata: ("Cahaya" artinya) "... Petunjuk dari Allah".

Ibnu Jurayj berkata: "Mujahid dan Ibnu`Abbas menjelaskan ayat di atas: Allah adalah yg mengendalikan (pergerakan) bulan dan matahari (yg merupakan sumber cahaya bagi manusia).

Tidak satupun yg menunjukkan bahwa Cahaya dalam ayat di atas adalah Ruh-nya Nabi Muhammad (Nur Muhammad).

Dari MY QURAN

firman Allah Swt.
"Allahulladzi khalaqas samaawaati wal ardha wama baina huma."

Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi lengkap dengan kedua isinya.

Segala sesuatu, baik yang ada di langit maupun di bumi, semuanya itu dikatakan alam. Selain dari Allah, dinamai alam. Bumi dan langit diciptakan, dunia dan akhirat pun diciptakan. Semua yang diciptakan Allah itu diletakkan atau ditempatkan di mana? atau di dalam tubuh apa?
contoh:
Allah ciptakan seluruh ikan hidup di laut; ditempatkan Allah di dalam air. Setiap manusia tahu ikan hidup dalam air, tetapi sedikit sekali yang memikirkan bahwa air itulah tubuh ikan.
Begitu juga keadaannya sekalian alam dan apa saja yang diciptakan Allah. Sedikit sekali yang memikirkan di tubuh apa sekalian alam itu ditempatkan.

Firman Allah:
Wallahu bikulli syai'in muhiith."
"Allah meliputi sekalian alam"

Bukan alam meliputi Allah, tetapi Allah meliputi sekalian alam. Tentulah kita bertanya," Apa Allah itu?"
Allah itu tubuhnya alam semesta. Tubuh alam itu wajib Mahasuci. Artinya, bersih sebersih-bersihnya.

Sebelum ada alam, tentulah keadaannya penuh kosong atau kosong sekosong-kosongnya. Perlu kita kenal yang dikatakan kosong sekosong-kosongnya itu. Kalau tidak kenal/paham dengan yang dikatakan "kosong" itu akan sakit pikiran.
Tubuh kosong ini Allah ciptakan diciptakan Allah terdahulu sebelum diciptakannya segala sesuatu. Kosong itu adalah tubuh mahasuci. Tubuh mahasuci itulah yang dikatakan sebagai zat. Jadi, zat adalah sifat Tuhan. Bukan Tuhan. Yang disebut Tuhan atau Diri Pribadi Tuhan yang sebenarnya adalah Zatnya zat (Rabbul Izzati; Tuhan sekalian zat). Itulah Tuhan.
Kalau zat saja sudah bersifat Laysaka mitslihi syaiun; tidak ada seumpamanya; tidak sama dengan sesuatu, maka Tuhan bersifat terlebih Laysa; tidak bisa ditafsirkan.

Pemahaman hakiki inilah yang perlu kita pahami. baru kita bisa "sampai" kepada Tuhan.
Sebab,
Jika pengetahuan seseorang sampai ke Tuhan, sampailah ia kepada Tuhan
Jika pengetahuan seseorang hanya sampai ke zat, maka ia hanya sampai kepada zat saja
Jika pengetahuan seseorang hanya sampai ke nur dan cahaya-cahaya saja, maka ia hanya sampai kepada nur dan cahaya-cahaya saja

Hadis Qudsi:
Awwalu wa khalaqallahu nuuri nabiyyika, ya Jabir. Fa khalaqa min hul asya' wa anta tilkal asya'.
Yang mula-mula sekali diciptakan Allah adalah cahaya nabimu (cahaya Ilahi)
Diciptakan dari cahaya (Ilahi) itu Nur Muhammad. Mengenai Nur Muhammad ini Allah Berfirman
Lawlaka lamaa khalaqtu 'aflaka
"Jika bukan karena engkau ya Muhammad (Nur Muhammad), niscaya tidak Aku ciptakan seluruh alam."Termasuklah diri kita ini.

Jadi jelaslah, kejadian Nur Muhammad itu dari Cahaya Allah. Dari Nur Muhammad terciptalah sekalian alam. Cahaya Tuhan itulah yang bernama Allah.

Matahari tetap matahari; cahaya tetap cahaya. Cahaya itu bernama matahari; bukan matahari bernama matahari.

Tuhan tetap Tuhan; Allah tetap Allah; Allah itu nama bagi zat (ismu zat).

Tuhan tidak bernama. Yang tidak bernama itulah yang menciptakan segala-galanya.

Cahaya Allah itu zat mutlak (zat yang tidak bersifat). Sebelum ada sifat, tentu hanya zat yang ada. Sebelum ada zat, tentulah hanya penuh-kosong (kosong sekosong-kosongnya; tidak ada sesuatu).

Tuhan itu tertinggi dari segala yang tinggi. Tuhan itu terlabih Mahasuci dari segala yang mahasuci. Itulah sebabnya Tuhan disebut Qadim yang terlebih azali.
Allahu'alam.
Muxlim Blogs in All categories page 1 / 3894

Kesimpulan Penulis.

1.Nabi muhammad adalah Nabi akhir zaman penghulu para nabi.Ajaran Beliau untuk seluruh alam semesta.dan tiada kita ragukan kemulyaan beliau disisi Allah SWT. Beliau pembawa risalah dan Nurullah, yakni agama islam. Semoga solawat salam tetap tercurahkan pada beliau baginda Rosulullah SAW.
2. Hakekat Nur Muhammad adalah Allah SWT sendiri, sang maha pencipta makluk alam semesta. Bukan Nabi muhammad saw sebagaimana pandangan sebagai ahli tasawuf/filsafat.
3. Ketika Pandangan tentang hakiki Nur Muhammad adalah nabi muhammad itu sendiri, beriplikasi sama dengan keyakinan kristen tentang ketuhanan Al-Masih/Isa AS yang jelas-jelas ditentang ajaran islam dan nilai Ke-Esa-an Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar